ekosistem akuatik

MAKALAH
PENYELAMATAN DAN PELESTARIAN
SUMBER DAYA AIR
(EKOSISTEM AKUATIK)

Di susun oleh
Rini Nurfitriani
Rizki Ardian
Rudinal Azfar
Siti Maryam
Siti Suhaebah
IF/D/II
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2011

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahim
            Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah, memberikan kesehatan lahir maupun batin, karena rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penyelamatan dan Pelestarian Sumber Daya Air (Ekosistem Akuatik.”
            Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah, dan penulis berharap mudah-mudahan karya tulis ini dapat bermanfaat khususnya untuk penulis umumnya untuk pembaca dan yang berkepentingan.
            Akhir kata, sesuai dengan kata pepatah “tiada gading yang tak retak” penulis menyadari akan kemungkinan kesalahan dalam penyusunan, penulisan maupun isi dalam makalah ini untuk itu penulis memohon maaf karena kebenaran dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran agar dalam pembuatan makalah selanjutnya penulis bisa membuat makalah yang lebih baik.



                                                                                                Bandung,3 Mei 2011

                                                                                                                                      Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR             …………………………………………………………………    1
DAFTAR ISI               …………………………………………………………………………    2
BAB I              PENDAHULUAN       …………………………………………………………    3
BAB II             PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ekosistem akuatik          ………………………………..………..   4
2.2 Bentuk-bentuk ekosistem ekuatik    …………………………………
2.3 Perbedaan ekosistem lentik dan lotik           ………………………………….
BAB II             KESIMPULAN           ………………………………………………          
REFERENSI                …………………………………………………











BAB I
PENDAHULUAN

           













BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekosistem Akuatik
Ekosistem akuatik adalah ekosistem yang lingkungan hidup eksternalnya dikuasai dan di ungguli oleh air tawar, yang merupakan habitat dari berbagai makhluk hidup. Berbicara tentang ekosistem akuatik tidak bisa lepas dari meninjau masalah kelestarian air itu  sebagai komponen lingkumgan hidup yang utama. Air yang terdapat dalam system akuatik ini merupakan air permukaan (ada juga air tanah bagi sumber air untuk manusia) yang bisa digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya akan :
v   Air minum
v   Mandi, cuci, kakus (MCK) yang biasa disebut juga sebagai kebutuhan domestic.
v   Pertanian
v   Perikanan
v   Pembangkit tenaga listrik
v   Navigasi dan rekreasi
Khusus untuk air permukaan ini kecenderungan di Indonesia memberikan indikasi yang makin memburuk di tinjau dari segi kuantitas dan kualitas airnya. Ini erat hubungannya dengan perusakan dan pereduksian ekosistem hutan di kawasan hulu sungai. Secara praktis kuantitas air sungai ditentukan oleh naik turunnya debit air di musim hujan dan musim kemarau sepanjang tahun. Sedangkan kuantitasnya ditentukan oleh kadar pelumpuran dan tingkat pencemarannya.Karena itu, upaya pelestarian sumber daya air harus merupakan prioritas kalau kita tidak menginginkan sumber komoditi yang sukar diperoleh dimasa datang.



2.2 Bentuk-bentuk Ekosistem akuatik
 Pada dasarnya ekosistem akuatik (air tawar) ini terdiri ats dua bentuk :
2.2.1        Ekosistem dengan air tergenang (air diam) yang biasa disebut juga ekosistem lentik, misalnya :danau, kolam, telaga, rawa, dan sebagianya (lenis, bahasa latin artinya tenang.)
2.2.2        Ekosistem dengan air mengalir atau biasa disebut ekosistem lotik (lotus, bahasa latin artinya alir), misalnya :sungai, kali, selokan, parit dan sebagainya.
2.3.Perbedaan Ekosistem Lentik dan Lotik
Tentu saja dalam kenyataan mungkin kita bias agak sulit membedakan antara kedua ekosistem ini, terlebih kalau sebuah sungai, misalnya di bending menjadi sebuah waduk.
2.3.1 Ekosistem Lentik
Menurut lapisan kedalaman air dalam ekosistem lentik danau, telaga, atau kolam sekalipun. Kita mengenal adanya zonasi, seperti terlihat dalam gambar L di bawah ini :
Zonasi ini seperti halnya dalam ekosistem laut dihubungkan dengan daya tembus sinar surya kedalam ekosistem lentik itu.
§      Zone litorel terletak di tepi danau, telaga atau kolam dimana sinar surya dapat menembus sampai ke dasar, tempat biasanya tumbuhan air bisa berakasr, terutama tentunya pada ekosistem lentik yang tak terurus.
§      Zone limnetik terletak antara permukaan air dengan lapisan dimana sinar matahari masih bisa tembus secara efektif  sehingga pada kedalaman itu kadar cepat fotosintesis oleh komponen tumbuhan masih sama dengan atau lebih besar dari kadar cepat respirasi.
§      Zone profudental terletak dibagian dalam dan dasar dari ekosistem lentik, yang biasanya sudah tidak tembus oleh sinar surya atau kalaupun masih tembus cahanyanya sudah tidak efektif lagi untuk fotosimtesis.
Asal mula terbentuk ekosistem lentik bisa berbeda-beda. Danau upamanya ada yang terbentuk karena terjadi patahan dipermukaan bumi, yang kemudian diikuti oleh peristiwa klimatik (Danau Toba). Beberapa danau lainnya terjadi karena adanya peristiwa vulkanik (Danau lamongan), sedangkan Danau Jatiluhur terbentuk karena memang dibangun oleh manusia dengan jalan membuat bendungan sungai citarum. Ketika danau pertama kali terbentuk, didalamnya terkandung sedikit sekali bahan organic., tanah dasarnya pun bisa hanya terdiri atas induk tanah saja , airnya juga jernih. Karena airnya jernih, sinar surya pun dapat menembus jauh sampai kedasar barangkali,meskipun suhu dilapisan bawah memang relative akan lebih dingin.     Ekosistem lentik, baik berupa danau, telaga, kolam acapkali memiliki peranan penting bagi manusia, terutama sebagai sumber dalam makanan dalam bentuk produksi ikan.  
Ada kalanya ekosistem lentik ini dibangun untuk :
Ø      Menampung air genangan, supaya bisa dimanfaatkan di musim kemarau untuk berbagai kebutuhan hidup.
Ø      Mengendalikan banjir
Ø      Sekaligus menghasilkan pembangkit listrik tenaga air.
Di samping tentunya bisa dimanfaatkan sebagai penghasil ikan dan hewan akuatik lainnya yang bisa dimakan. Bahkan tidak jarang pula dapat dimanfaat kan untuk kepentingan kepariwisataan (berlayar, berenang, memancing, ski air, dsb) . Begitu beranekaragaman pemanfaatan ekosistem lentik ini bagi manusiaacapkali tujuan keserbagunaan dari suatu ekosistem lentik ini bagi manusia berakhir pada berbagai bentuk yang menimbulkan konflik satu dengan yang lain.
2.3.2. Ekosistem Lotik
            Orang memang tidak usah menjadi seorang ahli terlebih dahulu untuk bisa membedakan antara ekosistem lentik (air diam, tergenang) dengan ekosistem lotik (air mengalir) di mana di kedua ekosistem itu memang terdapat juga system kehidupan, baik tumbuhan maupun hewannya. Pada umumnya perbedaan kondisi dilingkungan di ekosistem lotik terletak pada :
{     Aliran atau arus  acap kali menjadi factor pembatas bagi berbagai komponen biotik yang mampu hidup didalamnya. Bagaimana pun arus dalam ekosistem lotik tetap menjadi :
-         Ciri yang membedakannya dari ekosistem lentik
-         Penentu jenis dan komposisi makhluk hidup dalam berbagai bagian dari sungai itu.
{     Perubahan muka air dan tanah dalam perjalanan waktu (musim).
{     Berlainan dengan ekosistem lentik yang suhunya bisa sangat dingin dilapisan bawah, dan kadar oksigen bisa sangan kurang,dalam ekosistem lotik persediaan oksigen relative berlimpah. Sebabnya tak lain karena air sungai acapkali dangkal, terus mengalir luas permukaan yang bersentuhan dengan udara lebih luas.
Seperti halnya ekosistem lentik (danau, telaga, kolam, dsb), ekosistem lotikpun mempunyai peranan penting sebagai sumber makanan dalam bentuk produksi ikan, dan hewan akuatik lainnya yang bis di makan. Baik dari ekosistem lentik maupun lotik memang tak sedikit produksi ikan dapat dipanen sekarang ini, bahkan penangkapan ikan dar danau dan sungai di Indonesia seungguhnya paling sedikit memberikan 3 peranan penting :
z     Sebagai penghasil bahan pangan bergizi tinggi
z     Sebagai kegiatan yang memberikan lapangan pekerjaan
z     Sebagai penghasil devisa
Namun demikian, ditinjau dari segi penghasil bahan pangan, produksi ikan di Indonesia rata-rata hanya bisa menyediakan 10 kg/kapita/tahun, sedangkan kebutuhan manusia Indonesia kurang lebih 3x lipat, yakni 30 kg/kapita/tahun. Hal-hal yang menghambat produksi ikan diperairan tawar sebenarnya banyak tetapi beberapa hal yang penting meliputi :
|     Sumber perikanan yang potensial umumnya terletak jauh dari sumber pemasaran, sedangkan sarana dan prasarana umumnya masih belum memadai
|     Kebutuhan manusia akan ikan ini semakin menngkat, sehingga timbul gejala penangkapan ikan berlebihan, yang mengakibatkan daya dukung dan daya pulih dari sumberdaya hayati ikan ini menurun.
|     Tekanan lingkungan yang disebabkan oleh meningkatnya pencemaran air oleh berbagai kegiatan manusia, khususnya kegistan industri.

















BAB III
KESIMPULAN

            Memang potensi air yang tersedia di tanah air kita dewasa ini masih di atas potensi rata- rata dunia. Kurang lebih 18.000 m3/kapita/tahun (rata-rata dunia : 10.000 m3/kapita/tahun). Namun demikian, aliran air mantap yang bisa sewaktu-waktu memenuhi kebutuhan manusia hanyalah 560 m3/kapita/tahun. Untungnya kebutuhan akan air dewasa ini baru 403 m3/kapita/tahun. Meskipun inisebetulnya sudah mencapai 70% dari aliran air mantap yang ada. Ini adalah gambaran khusus di Pulau jawa.
Dengan jumlah penduduk yang akan terus meningkat, dan perkiraan kebutuhan akan airnya pun naik karena tingkat pembangunan yang makin melaju, serta konsekuensi dan dampaknya yang sulit terbendung., terdapat indikasi bahwa aliran mantap air di Pulau Jawa akan menurun menjadi 436 m3/kapita/tahun. Menjelang tahun 2000. Sedangkan pada waktu itu nanti kebutuhan manusia akan air sudah meningkat sekitar 700 m3/kapita/tahun.
            Karena itu, kemampuan kita untuk mengelola ekosistem akuatik baik lentik maupun lotik, sehingga kelestarian airnya bisa dipelihara baik secara kuantitatif maupun kualitatif mempunyai jangkauan yang sangat menentukan untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia.









REFERENSI

Odum, 1971. Fundamentals Of Foolody. Saunders. Philadolphia.
PPLH, 1978. Laporan hasil Seminar Nasional Pengembangan Lingkungan Hidup, Kantor Meneg PPLH, Jakarta.
PPLH, 1979. Laporan Kualitas Lingkunagn Hidup Indonesia, Kantor Meneg PPLH, Jakarta.
Soeriaatmadja R.E. 1979. Ilmu Lingkungan. Penerbit-universitas, ITB, Bandung.

0 komentar:

Poskan Komentar